Im Ners........... Sebuah Perjalan hidup seorang hamba. Penuh aral dan rintangan, namun tak kan henti sebelum syahid
Assalamu'alaikum
Salam Ukhwah... Mari berbagi kisah
Rabu, 15 Januari 2014
Nothing
Ada yang datang, kemudian sejenak bersemayam, selepas itu pergi entah kemana.
kita tak pernah berharap pertemuan hanya sesingkat itu. tapi cinta tlah menetap di dalam rongga dada.
sekali kau katakan, tak perlu kau hiraukan aku, justru aku menghiraukanmu.
sekali kau katakan, tak perlu kau pedulikan aku, justru hal sebaliknya yang aku lakukan.
beberapa kali kubuka akunmu, diam-diam. dan rasa itu semakin bersamayam.
siapa yang salah?
yang salah adalah perasaan cinta yang tak termenej dengan baik.
tak pernah ada keterpaksaan dalam cinta, tak pernah ada penyesalan dalam cinta. tapi kita yang membuat diri kita merasa terpaksa dan terbebani. kita yang membuat diri kita menyesal terhadap suatu keputusan.
hari ini, ingin kutata kembali hati yang serupa kepingan kaca yang tak beraturan.
jika kau paksa aku pergi, aku akan pergi dalam pengharapan. karena kau tak sedetikpun memberi pernyataan akan kepastian.
*dikutip dari kisah seorang hamba....
terimakasih untuk kalian yg mengajariku arti cinta... sahabat2ku...
Sabtu, 28 Juli 2012
Ukhwah ini, biar terbingkai Robithoh....
Tetap dengan hembusan nafas yang panjang, rasanya dada ini semakin longgar. Hm… Manalah mungkin, kesulitan tanpa kemudahan nantinya, sedang penyakit keras yang mematikanpun masih memiliki persentase kesembuhan. Lalu kenapa, masalah duniawi tak ada penyelesaian?
Akhir-akhir ini, rasanya Alloh semakin dekat denganku, ada kekuatan yang dahsyat aku rasakan. Meski lelah ini semakin gemar menyelimuti hariku, peluh ini semakin deras. Ada genangan air mata tiap sujudku. Terselip kata, “aku tak mampu ya Rabb”. Inilah bentuk Cinta Alloh yang diberikan kepada hambaNya, terkadang cinta memang tak selalu dengan keindahan, karena kesulitan itu, mengajarkan kita, bahwa yang manis itu tak selalu nampak manis.
Ada pedih yang menganga, ada banyak hal yang tak mampu terlisankan, tapi ada satu hal yang membuatku harus tetap tersenyum, selalu menyemangatiku, mengistiqomahkanku, dan membuatku terkadang cemburu, atau bahkan membuatku tertidur sejenak dari kehidupanku yang sebenarnya. Yakni, kebersamaan dengan insan pilihan Alloh, insan yang senantiasa meningkatkan cintanya pada sang pemilik langit dan bumi. Mereka serupa air terjun yang deras. Segar, jernih, menderu, dan mengalir pada satu muara, yakni Alloh.
Kepadamu yang kusebut ukhti…. Aku mencintai kalian. Tak terdeskripsikan lagi seperti apa cintaku ini, yang pasti kusadari, aku selalu merindu membentuk lingkaran denganmu….
Bilapun waktu menghantarkan pada saat perpisahan, biar ukhwah ini tetap kita bingkai dengan ukhwah. Biar tetap indah dengan mahabah karnaNya. Biar terjaga, dan menjembatani kita saat hendak ke jannahNya….
Sabda Nabi s.a.w. yang mafhumnya:
”Perumpamaan orang mukmin dalam kasih sayang, ramah mesra dan hubungan baik mereka adalah seperti satu jasad, apabila satu anggota padanya sakit akan menyebabkan semua anggota berjaga malam menahan sakit.”
[Riwayat Muslim]
Selasa, 03 April 2012
Refleksi Aktivis Dakwah Kampus

Peran da’wah kampus dalam melahirkan kader-kader yang ulama bukanlah PR baru dalam pergerakan da’wah kampus. Pergerakan da’wah yang telah memiliki beberapa mihwar, bukanlah berdiri sendiri-sendiri. Mulai dari syiar (LDK), siyasi (BEM), dan ilmi (Lembaga keilmuan), memiliki keterkaitan satu sama lain. Tapi sayangnya, ketiganya belumlah optimal dalam pergerakan da’wah kampus saat ini. Mimpi utama untuk menghadirkan nuansa islami dalam aktivitas akademik maupun non-akademik di kampus terkadang terlupakan. Aktivis da’wah kampus yang diharpkan mengenal trilogi da’wah kampus yakni fungsi agent of change (agen perubahan), fungsi social control, dan iron stock (cadangan keras), yang Idealnya ketiga fungsi ini berjalan seimbang dan optimal, namun fakta di lapangan belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Kebanyakan para aktivis justru lebih sering mengkritik satu sama lain, bahkan mirisnya tanpa ada upaya perubahan, dan solusi cerdas yang diberikan. Rintangan yang semakin menghadang sesama pendukung da’wah, tarik-menarik peran, bahkan ada yang merasa memiliki peran paling urgent dalam da’wah, Egoisme yang semakin nampak, berjalan tanpa melihat sayap kanan maupun kiri. Bagaimana hendak mencapai kata islam Berjaya???
Ironis memang.
Desain setting yang diharapkan dapat menjadi lumbung kader, memerlukan konsepan matang dan amal nyata bagi penggerak da’wah. Produk yang dihasilkan bukan semata-mata hanya memiliki fikroh islami, tetapi juga spesialisasi dalam bidang keilmuannya serta berwawasan global. Namun lagi-lagi, kita masih terlalu asyik merasa paling istemewa di jalan da’wah ini.
Merujuk dari hal-hal diatas, dapat kita analogikan seperti sebuah perjalanan, kita telah memiliki peta dan tujuan yang jelas, ternyata masih banyak aral melintang, bukit-bukit yang terjal, atau sesekali mengharuskan untuk menyelami lautan. Da’wah ini tidak berdiri sendiri. Ada keterkaitan satu sama lain, saling mendukung dan melengkapi. Syiar, Siyasi, dan ilmi, adalah satu tubuh yang nantinya dapat mencetak kader-kader militan, siap memasuki posko-posko yang telah di siapkan.
“Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama kamu semua ; agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”(Al-anbiya:92).
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan Allah dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (As-shaf : 4)
“sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu, dan berta’walah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”(Al-Hujurat:10).
NB : Catatan ini di buat untuk ana pribadi, terinspirasi selepas diskusi dengan ukhti-ukhtina sekalian. semoga bisa bermanfaat untuk saudara2 seperjuanganku yang berada di masing-masing medan da'wah.
Sabtu, 04 Februari 2012
Siapa Bilang HATI nggak Butuh Terapi?

Kalau berbicara tentang seonggok darah yang terbentuk dalam tubuh kita memang tak ada habisnya. Hal ini sangat urgent untuk dibahas. Why??? Yuppp…. Pasalnya hati merupakan parameter kebaikan dan kejelekan tindak anggota tubuh manusia. Seperti yang pernah dikatakan Rosulullah s.a.w :
“...Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia itu adalah segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari)
Memang hati kita memiliki kondisi yang beragam, hingga akhirnya tercermin pada sifat, sikap, maupun keadaannya. Ini juga yang menjadi perhatian tentang beragamnya penyakit yang ada di dalam hati, seperti : kelalaian, iri, dengki, labilitas, olok-olok, riya’, munafik, dan sederet penyakit hati lainnya. Penyakit tersebut kerap kali menimpa pada zona kehidupan manusia, dan menjadi ujian yang besar bagi yang menderitanya. Penyakit ini bisa menjangkiti anak Adam, dimanapun dan kapanpun dia berada. Baik dalam bentuk ibadah, ilmu, syahwat, pangkat, kedudukan, wanita, dan lain-lain. Nah… agar kita dapat menetralisir penyakit yang ada di dalam hati, ada beberapa terapi yang perlu di aplikasikan, diantaranya:
1. Menyempurnakan Rasa Cinta kepada Allah
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165)
2. Ikhlas
Ikhlas dalam beramal sangat berpengaruh untuk mendapatkan ketenangan hati dan kesejukan didalam dada.
3. Ittiba’ yang baik
Senantiasa menjadikan nabi Muhammad sebagai panutan dalam segala hal.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)
4. Dzikrullah
Merupakan sarana penting untuk mengembalikan kondisi hati menjadi tenang dan tentram. Ketahuilah, dengan dzikir kepada Allah, hati akan menjadi tenang
5. Positif Thinking
Berfikir positif erat kaitannya dengan keadaan yang dialami oleh manusia/kondisi saat ini. untuk itu senantiasa Husnuzhan Billah (berprasangka baik terhadap Allah).
“Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku” ( HR. Bukhari)
6. Terapi lainnya
Terapi lainnya yang dapat dilakukan adalah melakukan banyak ketaatan, berdoa, berkumpul dengan orang sholeh, dan memperdalam ilmu agama.
Itulah beberapa terapi yang terkait dengan hamba yang terdiagnosa Penyakit hati, Semoga bernanfaat dalam meraih Ridha Ilahi. Amiin…
“Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.” (Atsar Shahih: Riwayat al-Baihaqi)
(Rismalia Az-zahra)
Sabtu, 24 Desember 2011
Katakan Tidak Untuk GALAU
Katakan Tidak Untuk GALAU
Akhir-akhir ini banyak…. Banget yang sering bilang sedang Galau. Ada yang galau dengan tugas akhir yang gak klar-klar, ada yang galau dengan judul skripsi, ada yang galau dengan pekerjaan, atau ada juga yang galau dengan amanah baru, bahkan ada yang galau dengan penantian. Tanpa terkecuali dengan penulis. Kalau semisal ada kalkulator yg bisa ngitung sendiri berapa jumlah orang yang bilang kata galau, mungkin tu kalkulator langsung nge-hank karena terlalu banyak .
Penasaran dengan arti galau sebenarnya itu apa, aku langsung buka kamus bahasa Indonesia, tapi ternyata nggak ada (maklumlah kamusnya mahasiswa, jadi yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana), dan seperti kebanyakan orang juga, langsung tanya ke mbah google, ternyata menurut KBBI Galau itu ga·lau , ber·ga·lau itu sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau.
Sebenarnya, tulisan ini nggak pure membahas apa itu galau, tapi penulis akan membahas Galau yang berimplikasi dengan kesedihan. makanya, penulis jadi terinspirasi buat note supaya bisa meminimalisir Galau yang nantinya bisa berefek pada kesedihan.
Mau baca??? Yuk… pelototin terus ya…..
Kehidupan Manusia
Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa. Bukankah suatu kesulitan itu didapatkan, supaya kita sennatiasa bersyukur ketika kenudahan-kemudahan itu kita dapatkan. Bukankah kesedihan itu didapatkan, supaya kita sennatiasa ingat Allah, betapa nikmatnya kebahagian itu. Kalau hidup selalu mudah, bisnis lancar, kuliah lancar, pekerjaan sukses, tanpa ada ujian sedikitpun, perlu curiga, kenapa demikian?
Ingatlah selalu, bahwa sebenarnya, setiap perkara yang dilakukan seorang muslim adalah kebaikan, seperti yang pernah Rosul kita katakana “Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
Jangan Sedih, Ketika yang diinginkan tak didapat
Beberapa waktu yang lalu saya sangat merasa kecewa, karena ada hal yang saya inginkan ternyata tak saya dapati, lalu ada seseorang yang menceritakan perihal kesedihannya juga, dengan penyebab yang sama dengan apa yang saya rasakan, setelah mendengar ceritanya, kalau boleh saya nilai dengan skala 1-10, rasanya skala kesedihan bliau sudah 9 (red:lebih parah dari saya). Sambil memberi motivasi untuknya, setiap perkataan saya, benar –benar saya hujamkan untuk diri saya juga.
Saya juga pernah galau dengan pilihan yang sangat membingungkan, dan ternyata pilihan yang saya ambil tidak sesuai harapan, alhasil kesedihanlah yang di dapat.
Saudaraku yang di muliakan oleh Allah, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya.” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta’ala berfirman:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.Al-Hadiid: 22-24)
Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat.” (HR. Al-Hakim)
Maka, sudah seharusnya kita senantiasa berusaha, menyelesaikan amanah kita sebagai seorang hamba, dengan beribadah kepada-Nya, dan mencari rizqi dengan halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.
Berdoalah Ketika Sedih
Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do’a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.” kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.” Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: “Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).” (HR. Ahmad)
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain.” (HR. Bukhari)
Contoh Orang-orang yang Sabar
Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.
Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya’qub: “Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.” Ya`qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya.” (QS.Yusuf: 84-86)
Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam: “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS.Maryam: 22-25)
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari’at-Nya, aamiin. So, Say No to GALAU.
Nb : Ketika Kau mendapati pilihan, maka mintalah petunjuk dari Allah, karena Dia-lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang tau mana yang baik untuk hamba-hambaNya.
Sumber : Al-qur’an dan Hadist.
Akhir-akhir ini banyak…. Banget yang sering bilang sedang Galau. Ada yang galau dengan tugas akhir yang gak klar-klar, ada yang galau dengan judul skripsi, ada yang galau dengan pekerjaan, atau ada juga yang galau dengan amanah baru, bahkan ada yang galau dengan penantian. Tanpa terkecuali dengan penulis. Kalau semisal ada kalkulator yg bisa ngitung sendiri berapa jumlah orang yang bilang kata galau, mungkin tu kalkulator langsung nge-hank karena terlalu banyak .
Penasaran dengan arti galau sebenarnya itu apa, aku langsung buka kamus bahasa Indonesia, tapi ternyata nggak ada (maklumlah kamusnya mahasiswa, jadi yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana), dan seperti kebanyakan orang juga, langsung tanya ke mbah google, ternyata menurut KBBI Galau itu ga·lau , ber·ga·lau itu sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau.
Sebenarnya, tulisan ini nggak pure membahas apa itu galau, tapi penulis akan membahas Galau yang berimplikasi dengan kesedihan. makanya, penulis jadi terinspirasi buat note supaya bisa meminimalisir Galau yang nantinya bisa berefek pada kesedihan.
Mau baca??? Yuk… pelototin terus ya…..
Kehidupan Manusia
Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa. Bukankah suatu kesulitan itu didapatkan, supaya kita sennatiasa bersyukur ketika kenudahan-kemudahan itu kita dapatkan. Bukankah kesedihan itu didapatkan, supaya kita sennatiasa ingat Allah, betapa nikmatnya kebahagian itu. Kalau hidup selalu mudah, bisnis lancar, kuliah lancar, pekerjaan sukses, tanpa ada ujian sedikitpun, perlu curiga, kenapa demikian?
Ingatlah selalu, bahwa sebenarnya, setiap perkara yang dilakukan seorang muslim adalah kebaikan, seperti yang pernah Rosul kita katakana “Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
Jangan Sedih, Ketika yang diinginkan tak didapat
Beberapa waktu yang lalu saya sangat merasa kecewa, karena ada hal yang saya inginkan ternyata tak saya dapati, lalu ada seseorang yang menceritakan perihal kesedihannya juga, dengan penyebab yang sama dengan apa yang saya rasakan, setelah mendengar ceritanya, kalau boleh saya nilai dengan skala 1-10, rasanya skala kesedihan bliau sudah 9 (red:lebih parah dari saya). Sambil memberi motivasi untuknya, setiap perkataan saya, benar –benar saya hujamkan untuk diri saya juga.
Saya juga pernah galau dengan pilihan yang sangat membingungkan, dan ternyata pilihan yang saya ambil tidak sesuai harapan, alhasil kesedihanlah yang di dapat.
Saudaraku yang di muliakan oleh Allah, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya.” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta’ala berfirman:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.Al-Hadiid: 22-24)
Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat.” (HR. Al-Hakim)
Maka, sudah seharusnya kita senantiasa berusaha, menyelesaikan amanah kita sebagai seorang hamba, dengan beribadah kepada-Nya, dan mencari rizqi dengan halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.
Berdoalah Ketika Sedih
Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do’a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.” kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.” Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: “Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).” (HR. Ahmad)
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain.” (HR. Bukhari)
Contoh Orang-orang yang Sabar
Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.
Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya’qub: “Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.” Ya`qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya.” (QS.Yusuf: 84-86)
Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam: “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS.Maryam: 22-25)
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari’at-Nya, aamiin. So, Say No to GALAU.
Nb : Ketika Kau mendapati pilihan, maka mintalah petunjuk dari Allah, karena Dia-lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang tau mana yang baik untuk hamba-hambaNya.
Sumber : Al-qur’an dan Hadist.
Jumat, 21 Oktober 2011
Wanita itu Spesial
“Ada hal yang ingin ku sampaikan, tapi terkadang hanya tertahan di kerongkongan. Seumpama aku memiliki kemampuan lebih untuk menumpahkan segala rasa yang ingin ku jabarkan, rasanya segala beban ini ingin kau tau.”
Kalimat di atas adalah salah satu cirri khas tentang seorang wanita. Ya… karena wanita itu diciptakan dengan hati yang begitu lembut. Setiap yang terjadi selalu dipertimbangkan dengan perasaan. Setiap kata yang tersampaikan, ingin selalu member yang terbaik. Terkadang hal ini memang tak baik, tapi adakalanya inilah yang menjadikan wanita itu special. Ia tercipta dengan hati yang senantiasa mementingkan perasaan, termasuk perasaan orang lain. Hingga terkadang ia lupa dengan perasaannya sendiri. Ia telahir dengan pribadi yang penuh kasih sayang, hingga terkadang ia lupa mengasihi dirinya sendiri. Ia hadir dengan selangit cinta, tapi terkadang ia lupa bagaimana cara mencintai dirinya sendiri.
Betapapun banyak hal-hal kecil yang tak terdefenisikan oleh kita tentang perasaan seorang wanita, padahal, jauh dalam lubuk hatinya, terdapat rasa yang kadang begitu sakit ia rasakan. Cintailah wanita yang ada didekatmu saat ini. Pun jika itu berarti adalah ibumu, istrimu, anak gadismu. Karena ia begitu menspesialkan kebahagiaan untukmu.
Dan bagimu wanita, malumu, cintamu, dan kasih sayangmu, adalah sesuatu yang luar biasa dan menjadikanmu begitu special.
Senin, 15 Agustus 2011
Surat Kosong
Surat kosong
Menerima surat yang kau kirim seminggu yang lalu
Tak ada satu katapun yang tertulis,
Apalagi sajak yang kunanti-nanti
Diantara pohon-pohon tua aku bersandar
Nenerawang isi surat yang kau maksud, meski kosong
Seolah hujan mengguyur tanah yang dahaga, dan tunas-tunas kering menjelma
Suratmu selalu kosong
Tak pandai aku menerka bahasamu
Ntahlah…, suratmu yang kosong itu seolah menggedor dadaku
Suratmu selalu kosong,
Kali ini pintaku, apa maumu padaku???
Kepada Biru, kunanti surat-suratmu…
Indralaya, 15 agustus 2011
Rabu, 27 Juli 2011
Cinta Tiada Banding

Ketika Rasulullah SAW menjelang kewafatannya, Beliau sedang terbaring di tempat tidurnya di dalam rumahnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk ?” tanyanya. Tapi Saidatina Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaf, ayahku sedang tidak dapat ditemui” kata Saidatina Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahandanya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Saidatina Fatimah “Siapakah itu wahai anakku ?”. “Tidak tahu ayah, sepertinya aku baru kali ini melihatnya” tutur Saidatina Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah SAW menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah SAW, Saidatina Fatimah pun menahan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, kemudian Rasulullah SAW menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah ?” Tanya Rasululllah SAW dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril.
Tapi itu tidak membuat Rasulullah lega, Rasulullah SAW masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini ?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak ?”. “Jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku : ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah SAW ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah SAW bersimbah peluh. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini”.
Mata Saidatina Fatimah terpejam, Saidina Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Tidak sukakah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah SAW pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril. “Ya Allah, betapa dahsyat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”.
Badan Rasulullah SAW mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Saidina Ali segera mendekatkan telinganya “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu”.
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Saidatina Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Saidina Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! - Umatku, umatku, umatku”.
Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi cahaya bagi kegelapan, obat dari seluruh penyakit, penghulu seluruh manusia, rahasia dari segala rahasia, dan makhluk paling sempurna. Rasul yang sangat mengkhawatirkan nasib umatnya dari pada dirinya.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Namun, bagaimanakah cinta kita kepada Rasulullah? Sudahkah kita mengikuti seluruh Sunnahnya?
Allaahumma sholli ‘alaa saidina Muhammad.....
Selasa, 26 Juli 2011
Berbeda Itu Fitrah

Beberapa waktu silam, ketika jalan-jalan di sebuah toko buku, tak sengaja mataku tetuju pada buku yang berjudul “Berbeda itu Berkah”, setelah ku baca deskripsi singkat di sampul terakhir, ternyata buku tersebut berisikan tentang perbedaan karakter setiap manusia. Hm… hanya ku pegang sesaat, karena buku yang ingin ku cari sudah dapat, mungkin untuk bulan berikutnya saja,. Terinspirasi darijudul buku, Jadi kali ini ana ingin menggoreskan sebuah catatan yang ane beri judul “Berbeda itu Fitrah” hheee… Entermezo…
Ikhwatifillah, Pada dasarnya Allah telah memfitrahkan pada diri seseorang untuk tetap mempertahankan prinsipnya masing-masing, karena Allah telah menciptakan manusia dengan berbagai macam karakter yang berbeda. Perbedaan pendapat kadangkala tak bisa kita hindari, terutama ketika berada pada majelis syuro’, antara pendapat A dan B dalam memandang suatu keadaan tak jarang berbeda, sehingga percekcokan sering terjadi pada kalangan aktivis da’wah kampus.
Ikhtilaf di tengah umat tak hanya terjadi pada masa ini, bahkan ketika masa Nabi Muhammad SAW, perbedaan pendapat sering terjadi antara kalangan para sahabat. Kadang Bliau membenarkan salah satu pendapat dari sahabat, namun tentu saja perbedaan itu tak menjadi bomerang bagi salah satu diantara yang berselisih, karena siapapun pendapatnya yang dibenarkan oleh Rosul, mereka tak merasa besar hati, dan bagi yang dikalahkan, mereka tak merasa rendah diri.
Perbedaan ini tetap saja ada selepas wafatnya nabi tercinta, para sahabatpun berselisih faham tentang tempat pemakaman Rasulullah, bahkan ketegangan semakin terasa ketika Pembaiatan Pemimpin setelah Rosulullah. Masing-masing pihak merasa berhak untuk memberi keputusan, bahkan perselisihan ini hampir meruntuhkan persatuan mereka. Namun, karena mereka adalah orang-orang pilihan yang langsung dikader oleh Nabiyullah saw, merekapun mendasarkan dari niat yang ikhlas, dan Umarpun menunjuk Abu bakar untuk melanjutkan kepemimpinan Rosul, dan kesepakatanpun di susul oleh sahabat-sahabat lainnya.
Antara Suami dan Istripun tak bisa selalu disamakan. Dalam hal selera makanan saja sudah berbeda, apalagi dalam pendapat. Yang menjadi masalah, jika keduanya tak bisa saling menerima perbedaan tersebut. Rosulullah adalah sosok pemimpin yang sukses dalam memadukan perbedaan antara masing-masing individu sahabatnya, perselisihan ras, suku dan beberapa kabilah yang berselisih.
Beberapa pon, yang mungkin bisa kita ambil dalam menghindari perselisihan yang buruk adalah:
1. Tujuan utama adalah mencari kebenaran
Jika seseorang memiliki tujuan besar dalam mencari kebenaran, ia akan ikhlas dalam menerima pendapat orang lain yang itu adalah kebenaran. Bahkan, pada kondisi tertentu ia harus siap untuk menyatakan kekeliruan pendapatnya. Namun, bagi mereka yang berselisih untuk mencari kepuasaan hati pribadinya, ia akan sulit menerima kebenaran yang datangnya dari orang lain, jika di hati kecilnya timbul rasa pembenaran pendapat orang lain, ia akan segera menepisnya, bahkan tak takut-takut untuk memutar balikkan fakta, bahkan ayat-ayat Allah, hal ini mereka lakukan karena ingin mengunggulkan diri masing-masing. Na’udzubillah…
2. Positif Thinking
Mereka yang ikhlas sajalah yang mampu berbaik sangka terhadap orang yang tak sejalan dengannya. Tapi, apabila Buruk sangka telah memenuhi rongga hatinya, hampir dapat dipastkan, perselisihan semakin berkobar dan pendapat lawan akan selalu dinilai negative. Dan bagi mereka yang senantiasa dalam keadaan berbaik sangka, ia akan dengan mudah berlapang dada atas setiap apa-apa pendapat orang lain, yang hakikatnya lebih benar.
3. Koreksi diri
Seseorang yang berani memberi pendapat, berarti ia harus berani mengoreksi dirinya, pendapat yang di utarakan harus jelas alasannya, sehingga ketika argumennya berbeda dengan orang lain, ia siap untuk mempertahankan pendapatnya
4. Jauhi Kegaduhan dan TIDAK Berdebat
Apabila seorang ditanya tentang suatu masalah yang ia tahu dapat menimbulkan kegaduhan
dan fitnah, maka dia harus bisa mengelak daripadanya kemudian berusaha mengarahkan si Penanya pada pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih baik, tanpa membuat si Penanya tersinggung atau kecewa. Perselisihan akan semakin tajam, jika seorang pemimpin maupun ulama justru memancing reaksi umat dengan ucapan dan pendapatnya yang kontroversial.
Seperti dipesankan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan Muslim bin Yassar, "Waspadalah kamu terhadap perdebatan, karena sesungguhnya ia merupakan saat ketidaktahuan orang yang berilmu dan karenanya setan mencari kesalahannya."
Rasulullah Saw pun bersabda pula, "Barangsiapa tidak mau berdebat karena mengaku salah, maka dia akan dibangunkan sebuah rumah di sekitar surga. Barangsiapa tidak mau berdebat karena mengaku benar maka dia akan dibangunkan sebuah rumah di tengah-tengah surga. Dan barangsiapa yang membaguskan akhlaq-akhlaqnya maka dia akan dibangunkan sebuah rumah di bagian atas".
Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” (QS. Al-Anfal: 46)
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31-32)
Semoga Bermanfaat….
Sabtu, 23 Juli 2011
Al-Ghuroba’

Apa itu Al-Ghuroba’???
“Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu, dia mengatakan; Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dan ketika itu kami berada di sisi beliau, “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Kemudian ada yang menanyakan, “Siapakah yang dimaksud orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah orang-orang yang jelek lagi banyak [jumlahnya]. Orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada orang yang menaati mereka.” (HR. Ahmad)
al-Ghuroba’ adalah orang-orang yang istiqomah, yang tetap berbuat baik ketika manusia telah rusak, merekalah manusia yang dijanjikan syurga dan kebahagiaan. Mereka istiqomah dengan agama Allah, dan memurnikan tauhid serta mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah. Merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga sholat, membayar zakat, berpuasa dan berhaji serta amalan lainnya yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Allah mensifati mereka dalam Al-Quran,
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.” [QS. Fushilat 30-31]
Dalam hal ini, kaum hawa perlu mengetahui lebih spesifik perihal Al-ghuroba’, mengapa demikian??? Hal ini karena, kaum hawa adalah penghuni terbanyak di neraka (masyaAllah…). Yuk kita simak beberapa firman Allah dan hadist rosul mengenai muslimah :
“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)
Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.
Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum : “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.” Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)
“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)
Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad
Ada beberapa Sanksi bagi wanita, Rosul melihat:
1. Wanita yang digantung, hingga otaknya mendidih
Wanita seperti ini dikarenakan wanita yang selama hidupnya enggan menutup aurat
2. Wanita yang di gantung oleh Allah dengan lidahnya, lalu air panas mendidih di tuang di tenggorokannya
Wanita seperti ini dikarenakan ia yang sering mengomeli suaminya
3. Wanita yang kedua kakinya di ikat di payudara, dan kedua tangannya di ubun-ubun
Wanita seperti ini adalah ia yang mengotori kamar/tempat tidur suaminya, atau disebut juga dengan wanita yang suka berselingkuh
4. Wanita yang digantung, dan payudaranya digigit oleh ular dan kalajengking
Wanita seperti ini dikarenakan ia tidak suka mandi jenabat setelah haid/berhubungan, dan wanita yang sering mempermainkan sholat.
5. Wanita berkepala babi, dan badannya anak keledai, kemudian ia disiksa dengan seribu siksaan.
Wanita seperti ini dikarenakan ia suka mengadu domba/pendusta
6. Wanita yang menyerupai anjing, dan api keluar dari duburnya. Sementara malaikat memukulinya dengan pentungan yang terbuat dari api
Wanita seperti ini adalah wanita yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya, dan iri hati/dengki.
Naudzubillah… sungguh tak dapat dibayangkan seperti apa siksaan yang Allah berikan pada wanita-wanita yang melanggar ketentuan Allah, di zaman modernisasi seperti ini, sungguh banyak godaan yang dialami oleh manusia, terlebih oleh kaum hawa. Untuk itu wahai ukhti, mari kita menjaga diri kita dari api neraka. Tak apalah kita yang mungkin sering dikatakan ninja ataupun kuno dalam segi fashion, Karena tak mengikuti trend saat ini. yang penting Allah tak menggolongkan kita dalam golongan wanita yang bertabarruj. Mari menyibukkan diri dengan banyak belajar ilmu Agama, banyak membaca al-qur’an, mentadaburinya, kemudian berusaha dengan optimal untuk mengamalkannya. Menjadi muslimah yang gemar bershadaqah, tak suka menggunjing, dan muslimah yang gemar mengikuti kajian yang didalamnya mempelajari ilmu Allah. Kita mulai dari sekarang, semoga Allah mengistiqamahkan kita. Aamiin….
“Maka takutlah kamu kepada api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)
“Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam. Mereka berkata: demi Allah, (sungguh) ia telah cukup (untuk membakar orang orang yang kafir dan berdosa) wahai Rasulullah, beliau bersabda: sungguh ia telah dilipat kalikan atasnya sebanyak 69 bagian, semuanya seperti panasnya (api dunia) ” (H. R Muslim no. 7344)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk al-Ghuroba’. Allahumma amin.
NB : mencoba menulis ulang catetan lamaku, jum’at 16 desember 2006, Koga. Semoga bermanfaat…
Langganan:
Komentar (Atom)

